Transformasi era Pandemi Yang Mungkin Terjadi

Jadi ini hanya semacam pemikiran saja, di era saat ini banyak perusahaan merumahkan karyawannya karena tak bisa lagi menutupi biaya produksi dan saya paham banyak teman-teman yang terdampak.

Tadinya yang memiliki penghasilan dirumahkan jadi tak punya penghasilan sekarang, lalu ada beberapa yang sedikit lebih beruntung yang hanya dikurangi setengah, lalu ada yang sangat beruntung yang masih tetap bekerja, apalagi sambil WFH.

Namun tidak bisa dipungkiri pandemi ini membawa dampak ekonomi yang buruk untuk semua orang. Dari mulai perusahaan besar sampai pengusaha UMKM semua terdampak wabah ini, dan hasilnya banyak pemasukan bisnis yang berkurang jauh.

Lalu apa yang bisa kita lakukan saat pandemi ini?

Saya tak tahu tak ada cara cepat untuk mendapatkan penghasilan baru secara cepat. Terlalu banyak unsur yang membuat perjalanan bisnis baru tak pasti.

Namun dengan keluarnya para pekerja dari Jakarta dan sebagian yang dirumahkan, ada kemungkinan yang terpikir yang mungkin bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman dalam mencari penghasilan baru.

Tenaga Kerja Ibu Kota yang Membawa Potensi

Dengan banyaknya pekerja yang kembali ke kampung halaman di PSBB pertama Jakarta, sebenarnya membuka kesempatan juga untuk daerah menjadikan mereka sebagai sebagai tenaga ahli yang membawa pengetahuan yang spesifik.

Mereka membawa pengetahuan cara bekerja profesional dari Jakarta dan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis lokal.

Memang sulit menebak pekerja dari bidang mana saja yang kebanyakan pulang ke kampung halamannya. Tidak ada yang menyediakan datanya, pemerintah pun tidak menerbitkan perkembangan dunia kerja dan ekonomi dan efek dari Pagebluk.

Masalahnya ketika mereka yang pulang berasal dari bidang kreatif, middle management, dan lain-lain, jelas akan bisa membawa nilai pekerjaan yang lebih ketika pulang ke kampung halamannya.

Saya pikir ini membuka kesempatan untuk desentralisasi ekonomi Jakarta, namun akan tergantung bagaimana pemerintah daerah memanfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan nilai ekonomi dan lapangan kerja mereka.

Tantangan Membuka Bisnis di Daerah

Kalau melihat angka statistik keberhasilan seorang dalam berwirausaha di Amerika saja yang memiliki pengetahuan serta budaya entrepreneurship yang lebih tinggi dari Indonesia, kemungkinan suksesnya adalah 20%.

Artinya dari 100 orang yang membuka usaha kecil, menengah, dan besar di sana. Hanya ada 20 orang yang sukses dari 100 orang.

Ini di Amerika yang sudah menunjang orang-orangnya dengan pengetahuan, data, dan mindset bisnis yang canggih. Di Indonesia tingkat kesuksesan bisnis akan lebih rendah lagi dari 20%.

Para pekerja profesional ibu kota yang sekarang tinggal di daerah akan membawa kesempatan yang lebih baik untuk pengembangan bisnis. Namun semua itu perlu didukung oleh pemerintah daerah yang memberi kemudahan untuk membuka bisnis di sana.

Ditambah untuk beberapa industri bahan baku akan sulit didapatkan, ini juga jadi sebuah tantangan yang harus bisa diselesaikan.

Jika kamu penasaran dengan apa yang terjadi di media masa saat ni, kamu bisa baca pemikiran saya di sini.

Bisnis yang Seperti Apa?

Ketika saya menulis artikel saya juga bekerja di Rendunk.com sebuah portal media kuliner dan bisnis kuliner yang mendukung pengembangan bisnis UMKM kuliner rumahan.

Kita mengeluarkan tips seputar bisnis kuliner, khususnya untuk pemasaran digital dan branding untuk mendukung pengembangan bisnis kuliner tersebut.

Seiring waktu berjalan bahwa saya dan para stakeholder (pemangku kepentingan) di Rendunk sadar kalau bisnis kuliner akan mengalami transformasi digital. Dimana tadinya yang berkonsep restoran atau dine-in (makan di tempat) berubah menjadi delivery karena resiko penyebaran pagebluk ini.

Media sosial dan website menjadi pilihan utama dalam memasarkan produk kuliner.

Dan banyak industri lain pun yang akan dipaksa bertransformasi karena pagebluk ini. Medium digital akan jadi sarana utama dalam memasarkan produk bisnis tersebut.

Namun ini tidak menutup bahwa akan ada banyak bisnis yang tutup karena mereka tidak bisa atau terlalu lambat bretransformasi.

Umumnya karakteristik bisnis yang ideal saat ini adalah :

  • minim resiko menyebarkan COVID-19, tidak menyediakan tempat berkumpul
  • Mengandalkan pengantaran
  • Harga terjangkau

Harga terjangkau di sini adalah penting karena banyak orang yang melakukan pengiritan, mereka hanya akan membeli kebutuhan pokok di masa ekonomi yang tak jelas ini.

Mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan para pekerja ibu kota yang sekarang pulang ke daerah mungkin bisa jadi pilihan jangka panjang untuk pemerintah daerah mengembangkan daerahnya. Namun kalau dilihat secara jangka pendek kamu ada banyak hal yang membuat pilihan ini tak pasti.

Lalu apa solusi jangka pendek yang bisa kita lakukan saat ini?

Gerakan Sosial

Ada banyak orang terdampak pagebluk dari mereka yang punya jabatan tinggi di perusahaan sampai ke pekerja serabutan yang upahnya harian.

Kemudian ada sebagian dari kita yang lebih beruntung dibandingkan yang lain, ini jelas.

Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat gerakan sosial dengan fokus utama bagaimana kita bisa menolong mereka yang paling rentan dan terdampak dari pagebluk ini.

Di saat kritis seperti ini perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menolong. Tuntutan bertahan hidup sebagai masyarakat semakin mendesak.

Kita membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengorganisir serta bertanggung jawab dalam menjalankan dan mengarahkan daerah ini.

Kamu punya kan hp yang diisi kuota internet, itu sudah cukup sebenarnya membuatmu jadi pemimpin.

Pagebluk ini memakasa kita bertransformasi untuk bertahan hidup, namun saya pikir kita juga bisa memanfaatkan ini untuk mengembangkan diri dengan cara membantu orang lain yang rentan dan terdampak oleh wabah ini.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *