Ketika Era Broadcast TV dan Radio Terdistrupsi Media Sosial Dan Internet

Sudah beberapa dekade dominasi industri broadcasting, yaitu tv dan radio mendominasi hiburan kita. Di Indonesia sendiri baru di 2017 pendapatan media dari iklan terus berkurang. Nominalnya berapa saya tidak tahu.

Untuk beriklan di tv akan berbeda harganya tergantung jamnya, untuk prime time yaitu jam dimana paling banyak orang menonton maka harganya akan jadi paling mahal. Harga mahal yang dimaksud di sini bisa dari puluhan juta hingga milyaran, tergantung jam dan durasi iklan.

Biasanya TVC (TV commercial) berdurasi 30 detik, untuk durasi 60 detik lebih mahal tentunya. Hanya perusahaan besar yang akan beriklan di tv tersebut,  bisnis menengah apalagi bisnis kecil tak mampu membayar slot iklan yang mahal ini.

Namun dengan adanya berbagai platform media sosial ini dan kita bisa beriklan di dalamnya, harga beriklan di media sosial jauh lebih terjangkau.

Untuk Instagram dan Facebook harga beriklan paling murah adalah lima belas ribu. Dengan harga segitu kamu sudah bisa menjangkau sekitar dua ribu orang.

Namun perbedaan harga yang seperti bumi dan langit bukan satu-satunya alasan yang membuat pendapatkan iklan media broadcast seperti TV dan radio berkurang. Kita harus melihat selanjutnya bagaimana semua itu dimulai.

Dan ini yang akan kita bicarakan hari ini. Kegaduhan ini dimulai dari RCTI dan INews yang masih satu grup (MNC Grup) menggugat UU Penyiaran ke Mahakamah Konstitusi.

Media sosial punya yang namanya Network Effect

Untuk sebuah startup atau produk digital yang bisa dapat di scale-up mereka perlu memiliki apa yang namanya Network Effect, yaitu ketika semakin banyak orang menggunakan produknya maka semakin bagus.

Seth Godin membicarakan bagaimana jika email dan mesin fax tak berguna untuk pembeli pertamanya, jadi orang yang membelinya akan bilang kepada keluarga dan rekan kerjanya. Begitu juga dengan media sosial.

Ketika teman-temanmu menggunakan Facebook misalnya, maka Facebook jadi lebih menyenangkan digunakan. Media sosial memiliki Network Effect ini, semakin banyak orang yang menggunakannya maka ia semakin baik dan seru bagi penggunanya.

Media dari zaman penyiaran seperti TV dan Radio tidak memiliki Network Effect ini karena memang sudah bentuk dan wadahnya yang seperti itu. Mereka hanya bisa mencari jumlah pendengar dan penonton yang lebih banyak saja.

Ketika pengguna aktif sebuah platform media sosial semakin banyak maka untuk nilai iklan di sana pun semakin tinggi. Prinsipnya mirip dengan tv dan radio, semakin banyak penonton dan pendengar, maka akan semakin mahal.

Namun karena harga iklan di media sosial lebih terjangkau dan bisa diukur (kamu bisa melihat interaksi, jangakauan, dan wawasan hasil iklan tersebut). Maka beriklan di media sosial lebih menguntungkan.

Uang dari anggaran iklan perusahaan besar yang biasanya dinikmati oleh TV saat ini terbagi dengan platform media sosial dan mesin pencari seperti Google, Facebook, Youtube, dan Instagram. Jatah kue dari iklan tak sebesar dulu.

Lalu semenjak pengguna media sosial ini selalu bertambah tinggi tiap tahunnya, bukan hanya bisnis kecil dan menengah yang turut beriklan di media sosial juga, namun para bisnis besar juga, top brand Indonesia sudah beriklan di media sosial dari awal 2010 dan anggaran iklan mereka semakin besar tiap tahun. Salah satu merek otomotif di sini pada tahun 2018 menganggarkan delapan miliar untuk produksi kontendan iklan di Youtube.

Hal ini terlihat dari lowongan untuk pembuat konten (content creator), brand manager, social media specialist, dan digital marketer yang dibuka oleh agensi periklanan dan bisnis-bisnis itu sendiri. Tiap tahun lowongan ini semakin banyak, TV tidak lagi jadi pilihan utama dalam beriklan.

Ini saya duga yang menjadi bahan pertimbangan kenapa RCTI dan iNewsTV melayangkan permohonan undang-undang penyiaran untuk memasukan tayangan di media sosial untuk diawasi oleh KPI juga.

Baca juga: Kenapa kamu harus menyebarkan karyamu di ranah digial

Kualitas konten media sosial vs TV

Di tahun 90an hingga awal dekade 2000an tv masih bisa dibilang mendominasi tayangan yang dinikmati masyarakat Indonesia karena memang penggunaan internet belum umum. Facebook pun baru lahir ketika 2007 dan mulai banyak digunakan pada tahun 2008.

Fitur beriklan di media sosial awalnya memang digunakan oleh bisnis kecil dan menengah, namun seiring banyaknya cerita sukses dalam merawup keuntungan membuat bisnis besar, termasuk perusahaan top Indonesia untuk ikut beriklan di dalamnya.

Selain itu khusus untuk Youtube, platform yang menayangkan video sebagai kontennya, mendorong juga orang-orang untuk membuat konten di sana karena mereka bisa kebagian keuntungan dari iklan tersebut.

Faktor lain yang membuat orang semakin malas menonton tv adalah rendahnya kualitas tayangan yang disuguhkan.

Kamu boleh berargumen kalau orang di daerah cenderung akan menonton tv sebagai pilihan tontonannya dibandingkan Youtube.

Namun ketika internet lebih merata, bahkan ke wilayah terluar, generasi muda yang sudah melek internet dan media sosial sangat mungkin akan beralih. Ini berarti penonton tv akan semakin sedikit ke depannya.

Para pembuat konten di Youtube dan Facebook mencoba menyuguhkan tontonan terbaik kepada pemirsanya. Apakah di TV masih seperti itu? Mungkin hanya untuk beberapa pertunjukkan saja.

RCTI dan InewsTV sebenarnya punya produk digital yang bisa kamu download secara gratis di Play Store dan App Store. Namun saya duga ini juga tidak menolong banyak.

Kenapa? Karena kualitas konten yang disuguhkan sama saja dengan TV. Jika acaranya biasa saja maka tak banyak orang yang akan menontonnya.

Baca juga: Kunci Menjadi Ahli di Bidang Apapun

Lalu Apa Yang Harus TV Lakukan?

Media tv seperti RCTI dan INewsTV adalah perusahaan yang memiliki modal milayaran untuk membuat sebuah acara. Dengan adanya permintaan judicial review seperti ini mereka tampak ingin mengebiri pembuat konten di media sosial.

Jawabannya tentu bukan itu, masa perusahaan yang mampu membuat acara tv dengan anggaran ratusan juta rupiah bermain seperti ini?

Baca juga: Hal Yang Membuatmu Mendapatkan Uang

Para pembuat konten ini kadang hanya bermodalkan hp saja, ada juga sebagian kecil yang sukses besar namun dibandingkan tv ya tentu saja pendapatan mereka tak sebanyak itu.

Kelas stasiun tv dan pembuan konten independen itu berbeda, jangan disamakan dong.

Jawabannya adalah dengan menaikkan kualitas tayangan yang disuguhkan.

RCTI banyak memiliki tayangan yang sebenarnya oke punya. Dari Indonesian Idol dan yang paling oke menurut saya adalah Tayangan Preman Pensisun, karya almarhum Dedi Petet dan kawan-kawan.

Preman Pensiun contohnya sukses berat di wilayah perkotaan juga di daerah. Tayangan yang seperti ini harus dimiliki di semua acara yang ditayangkan RCTI.

Pikirkan bagaimana kamu bisa memberi kepuasan dan menyenangkan penontonmu. Jangan hanya peduli uang dari iklan saja, pikirkan kepuasan batin kita juga dong sebagai penonton TV.

Saya di sini tetap berada di sisi pembuat konten dan menolak dengan tegas jika tayangan konten video dan live di media sosial diawasi KPI.

Semoga gugatan dari RCTI ini ditolak dan membuat mereka sadar kalau sudah saatnya MNC grup ini meningkatkan kualitas tayangannya dan bertransformasi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *