Tips Menahan Godaan Promo & Diskon Menurut Sains

Di era digital sekarang dimana waktu kamu membuka hp sangat sering, akan ada banyak distraksi khususnya dari push notification (itu notifikasi yang selalu muncul di hp) aplikasi ecommerce favoritmu dan itu membuatmu makin sulit menabung karena banyaknya godaan promo dan diskon.

Sebagai pemasar digital, saya harus jujur kalau memang banyak dari iklan-iklan itu juga saya buat hehehe. Jadi ya maaf, ada andil saya bagaimana anda jadi ketagihan belanja online.

Nah, di artikel ini saya akan bahas cara bagaimana kamu tidak tergoda untuk belanja melulu berdasarkan temuan Dan Ariely seorang profesor dari bidang perilaku dan hasil penelitian lainnya.

Godaan Diskon dan Promo itu Membuat Dirimu Belanja Dengan Emosional

Cobtoh diskon dan promo yang berlangsung di Tokopedia
Ini adalah contoh promo dan diskon yang dilakukan seller di Tokopedia, ini adalah godaan promo dan diskon, kawan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh AOL menemukan bahwa belanja online kebanyakan merupakan hasil emosional.

Ada tiga faktor yang menyebabkan kenapa pengambilan keputusan itu bisa jadi tergesa-gesa. Pertama adalah dorongan Dopamin, jadi kamu merasa senang kalau sudah belanja. Rasa senang tersebut dihasilkan oleh Dopamin, hormon yang membuat dirimu senang.

Jadi kamu ketagihan perasaan senang dari melakukan belanja online.

Kedua, adalah karena kamu bosan jadi kamu membuka toko online

ketiga, adalah expertise shopping, yang ketiga ini kamu ingin membeli produk dimana kamu di situ merasa sebagai ahli.

Contohnya teman saya yang hobi ngoprek gadget dan smartphone, dia selalu merasa kalau harus belanja gadget terbaru supaya dia tetap up-to-date dengan tren teknologi gadget.

Nah, dari tiga kategori, saya sebagai pemasar digital mengincar momen yang membuatmu tergesa-gesa dalam membeli barang itu. Salah satu caranya adalah membuat diskon berbatas waktu.

Diskon hanya untuk hari ini, misalnya diskon hanya berlaku selama 24 jam. Cara-cara ini mendesak dirimu untuk belanja secara cepat, seringnya malah membuatmu tidak memperhitungkan secara matang.

Membuat diskon berbatas waktu adalah strategi yang sering digunakan para pemasar untuk membuat produk digital terasa langka. Ini adalah strategi kelangkaan yang umum digunakan oleh orang-orang pemasaran.

Ini jadi masalah ketika kamu ingin menabung karena diskon dan sales adalah musuh yang harus bisa kamu taklukan.

Sama seperti kamu membeli perbotan baru karena sedang sales, padahal kamu tak benar-benar membutuhkannya. Atau kamu membeli jaket baru, padahal yang lama juga jarang terpakai, dan seterusnya. Masalah-masalah ini memang membuat kita menjadi lebih bodoh ketika menangani uang.

Menurut Dan Ariely:

“Sepertinya diskon adalah ramuan untuk membuatmu bodoh. Ia hanya membuat proses pengambilan keputusanmu menjadi buruk. Ketika sebuah barang dilabeli ‘on sale’, maka kita bertindak cepat tanpa pemikiran matang dibanding barang yang sebetulnya harganya sama tapi dilabeli reguler (tanpa diskon).”

Dan kita dibombardir oleh taktik ini setiap saat.

Taktik harga ini dilakukan oleh hampir semua perusahaan ketika menawarkan produknya. Mereka mencoba membuat tergesa-gesa dalam membuat keputusan membeli.

Salah satu trik nya adalah dengan menghitung dan mengingat-ngingat lagi kebutuhanmu, apakah kamu memerlukan barang tersebut?

Paling aman ya kamu harus belajar untuk mengacuhkan tawaran promo dan disko tersebut.

Tahan Godaan Promo dan Diskon Dengan Menggunakan Lebih Banyak Uang Tunai

Menggunakan uang tunai lebih sering membuatmu makin hemat
Dengan menggunakan uang tunai lebih sering dibanding aplikasi seperti Ovo, Gopay, dll, akan membuatmu lebih hemat

Ketika kamu memberikan uangmu maka kamu merasakan sakit yang setara dengan sakit fisik. Khususnya ketika kamu harus membayar denda dan lain-lain. Ini yang terjadi di otakmu.

Nah, ketika penggunaan uang non fisik semakin merajalela, saatnya kamu benar-benar waspada.

Di Amerika penggunaan kartu kredit membuat orang lebih konsumtif karena mengurangi rasa sakit dari memberikan uang.

Apalagi kita sekarang berada di zaman serba cashless. Ada Ovo, Gopay, Linkaja, dan lain-lain, ini akan menghilangkan rasa sakit yang kamu rasakan ketika memberikan uang itu. Artinya kamu akan menjadi pribadi yang lebih konsumtif dalam berbelanja.

Tips Budgeting:

Untuk menghilangkan hal ini kamu bisa mulai dengan membuat anggaran untuk produk cashless seperti Ovo dan Gopay, misalnya masing-masing mereka per bulannya kamu anggarkan hanya tiga ratus ribu, disesuaikan dengan kebutuhan kamu.

Banyak pekerja yang menggunakan Gopay untuk membuat biaya perjalanan mereka lebih murah. Hal paling aman gunakan untuk keperluan yang biasa saja, jangan terbuai dengan promo Go Food atau lobang di dompetmu bisa jadi lebih besar.

Menggunakan kartu kredit dan teknologi pembayaran digital lainnya menuntutmu untuk memiliki disiplin yang lebih tinggi dalam mengatur belanjamu. Ini juga akan membuatmu lebih tahan godaan promo dan diskon.

Jadi hati-hati dan buat anggarannya.

Memang ada kalanya ketika kamu ingin membuat pengeluaran tidak menyakitkan, seperti ketika kamu menikmati Honeymoon atau menabung untuk membeli laptop impian.

Namun ada baiknya kamu mulai memikirkan kembali apakah memang sudah saatnya kamu membeli laptop yang lebih baru?

Seorang teman saya memiliki kebiasaan kalau dia memiliki uang di rekeningnya akan langsung dia isikan ke saldo Shopee, nah ini malah membuat kebiasaan belanja dia di Shopee jadi lebih sering dan akhirnya dia tambah boros serta hampir tak memiliki tabungan.

Mending Bayar Daripada ……

Siapa kawan yang ketika mau pesen Gojek atau Grab harganya tiba-tiba naik karena waktu kalian memesan termasuk waktu yang ramai? Atau ketika sedang hujan?

Lalu kalian lihat kenaikan tarifnya bisa sampai dua kali lipat tapi waktu itu hujan dan kalian berpikir “gak papa deh, yang penting gak kehujanan.” Sampai sini kalian berpikir kenaikan tarif dua kali lipat tersebut adalah sesuatu yang tidak adil dan tidak wajar.

Masalahnya ketika kamu merasa harga tersebut tidak adil maka kamu akan menghukum dirimu sendiri. Ingat, memberikan uang itu sakitnya sama seperti sakit fisik.

Tapi….

Konsep ‘wajar’ atau ‘fair’ ternyata membuat otak kita bingung dengan seperti apa idealnya sesuatu yang wajar. Begini kata Dan Ariely:

“Jangan terperangkap dengan konsep harga yang wajar, lebih baik perkirakan apa yang berharga untuk kita. Sebaiknya kita jangan menolak sesuatu yang bernilai, akses kembali ke rumah, komputer bekas, mendapatkan tumpangan saat musim dingin- Hanya untuk menghukum penyedia jasa karena kita berpikir itu tidak adil.”

Pikirkan apakah kamu membayar harga yang adil atau setara, kalau kamu merasa terpaksa membayarnya maka kamu akan menghukum diri sendiri.

Namun cara paling paling efektif untuk menghemat uang adalah dengan kontrol diri, mari kita bahas.

Cara Kontrol Diri

Jika dirimu ingin menabung dan aman menahan godaan promo dan diskon maka cara terbaik adalah menyisihkan di awal ketika kamu mendapatkan uang tersebut. Hari pertama gajian adalah kamu akan menyisihkan 30% misalnya dari gaji tersebut.

Ketika kamu menabung secara otomatis atau pun manual di tempat yang kamu sulit ambil uang tersebut, seperti di BMT terdekat misalnya atau tabungan khusus yang tidak bisa kamu cairkan kecuali waktu tertentu. Untuk Deposito mereka baru bisa dicairkan beberapa tahun berikutnya.

Ketika kamu melakukan ini, maka kamu sudah menghilangkan kehendak bebas (free will) terhadap pengguanaan uang tersebut. Jadi kau tidak bisa apa-apakan uang itu.

Namun, manusia tidak luput dari irasionalitas, artinya kita sering berpikir dengan tidak masuk akal dan ini memang sudah jadi bagian dari pembawaan diri manusia.

Anchoring

Contoh Anchoring Bias
Seorang yang merasa sebagai ahli (padahal amatir) merasa membutuhkan alat-alat paling mahal dan canggih, padahal belum jadi kebutuhannya

Anchoring adalah bias kognitif yang sering terjadi pada pemikiran manusia, termasuk menggunakan data atau informasi yang tidak akurat sebagai bahan pertimbangan dalam membeli sesuatu. Jadi jika kamu sedang ingin membeli sesuatu dan pertimbanganmu tidak matang, maka kamu akan mudah terpengaruh godaan diskon dan promo.

Anchoring ini dipelajari pada bidang Behavioral economics (Ekonomi Perilaku) untuk meneliti kenapa orang menggunakan informasi yang salah ketika memutuskan membeli sesuatu.

Menurut Richard Thaler dalam bukunya Misbehaving salah satu contoh Anchor Bias adalah tentang penggunaan senjata api di Amerika. Di sana banyak orang yang percaya kalau kematian karena senjata api lebih banyak karena kasus pembunuhan.

Padahal kematian karena senjata api paling banyak disebabkan oleh bunuh diri, bahkan memiliki senjata api di rumah akan membuat kemungkinan untuk bunuh diri makin tinggi.

Jika diterapkan ke keputusan untuk membeli sesuatu maka kamu akan mendapatkan lebih banyak contoh lagi. Misalnya pilihan investasi di sebuah saham perusahaan atau di sebuah bisnis, seringkali jadi keputusan yang salah karena ekspektasimu terlalu tinggi dan tidak ditunjang dengan data yang lengkap.

Anchoring ini berperan membuat keputusan pembelian dan keputusan keuanganmu lainnya menjadi buruk. Kamu harus menyadari kalau kamu memiliki bias ini jika kamu ingin tahan godaan promo dan diskon.

Lalu adakah yang bisa kita lakukan?  Yaitu dengan melawan dengan Anchor lainnya. Kita punya saran bagus dari Dan Ariely:

“Penemuan ini – Anchoring punya efek lebih lemah jika kamu mempunyai ide tentang nilai suatu hal daripada kamu tak punya ide sama sekali –adalah penting untuk memikirkan hal ini. Ketika kita punya ukuran nilai dan harga di pikiran, lebih sulit bagi orang lain untuk mempengaruhi kita dengan Anchoring.”

Bagaimana paham tidak? Nih, saya kasih contoh:

Misalnya kamu sedang melihat kursus di Udemy, lalu kamu melihat mereka sedang diskon jadi seratus delapan puluh lima ribu dari yang harganya lima ratus ribu.

Padahal kalau kamu menggunakan aplikasi secara lama, kamu akan menemukan kalau harganya selalu lama, hanya naik atau turun sedikit saja. Jadi di Udemy harga yang dilabeli diskon itu sebenarnya sama dengan yang reguler.

Cara itu melabeli diskon dan menyertakan batas waktu adalah untuk membuat keputusanmu membeli kursus di Udemy itu lebih tergesa-gesa.

Contoh diskon berbatas waktu di Udemy
Contoh bagaimana platform digital seperti Udemy membuat diskon berbatas waktu untuk membuat dirimu lebih tergesa-gesa dalam membeli

Dan banyak lagi contoh yang bisa kau temukan jika melihat skema pembelian motor, mobil, atau barang elektronik khususnya dengan skema kredit.

Menurut temuan Dan Ariely jika kamu menetapkan harga berapa yang pantas untuk membeli produk itu lebih baik dibandingkan tidak memiliki ide sama sekali tentang nilai dan harga yang pantas kau bayar.

Jadi penting untuk mencari informasi sebelum kau membeli supaya tidak tergesa-gesa dan perhitunganmu jadi lebih matang.

Jadi mari kita rangkum.

Rangkuman

Ini godaan yang akan menghalangimu untuk berhemat, yaitu diskon dan sales yang membuat belanja dirimu jadi lebih emosional. Intinya kamu lebih mudah tergoda oleh godaan promo dan diskon.

Salah satu cara menangkal belanja emosional ini adalah dengan menggunakan lebih sering uang tunai dan disiplin diri yang lebih matang dalam menghadapi godaan ini.

Namun kita belum lolos dari yang namanya Anchoring atau bias pikir dalam memutuskan membeli sesuatu, untuk menangkalnya kamu harus mencari lebih banyak informasi sebelum memutuskan akan membelinya.

Udah, gitu aja. Sekarang tolong share ya artikel ini ke teman, saudara, yang kira-kira belanjanya gak kekontrol, semoga bisa bermanfaat.

Artikel lainya:

Cara Menabung Efektif Untuk Penghasilan Yang Pas-pasan

Cara Melawan Distraksi Yang Efektif Menurut Neurosains

Cara Efektif Memanfaatkan Waktu Luang Untuk Menggapai Cita-Cita

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *