Panduan Membuat Lebih Banyak Karya Berkualitas Dengan Konsisten

Di era digital ini kamu sebenarnya semakin mudah untuk memberikan karya untuk orang yang kau tuju. Namun dunia digital saat ini juga dipenuhi oleh keriuhan semakin penting bagimu untuk memiliki konsistensi dalam menyuguhkan karya berkualitas.

Karena membuat konten itu mudah, maka hampir semua orang di blog, media sosial, dan forum internet membuat konten. Tapi tidak semua membuat konten berkualitas atau dalam bahasan artikel ini karya yang berkualitas.

Lalu apa yang bisa kau lakukan untuk menggapai orang yang menyukai atau bahkan mencintai karyamu ini?

Mari lihat karyamu dari sudut pandang pemasaran

Melihat karya dari sudut pandang pemasaran
Bagaiaman melihat karya berkualitas dari sudut pandang pemasaran

Dalam sudut pandang pemasaran sebuah karya akan dipasarkan kepada mereka yang peduli tentang karya tersebut.

Misalnya kamu adalah seorang penulis cerita horor, maka saya sebagai orang pemasaran akan melihat bagaimana caranya agar cerita horor karanganmu itu bisa sampai kepada mereka yang memang senang membaca horor.

Dulu ceritamu ini harus diterbitkan penerbit besar, lalu masuk ke toko buku besar seperti jaringan Gramedia, kemudian  bukumu ini akan dipajang di dekat tempat masuk toko. Dengan begini orang-orang yang baru masuk ke toko buku akan langsung melihat bukumu.

Dulu seperti ini, namun saat ini proses seperti ini mahal dan tidak bisa dilakukan oleh para penulis baru yang belum punya pembaca setia.

Di era digital ini sebetulnya kesempatan terbuka lebar untukmu memasarkan karya, yaitu dengan konsisten menyuguhkan tulisanmu kepada pembacamu. Begitu juga jika kamu seorang fotografer, seniman, pembuat film, dan karya di bidang lainnya.

Apa pun karyamu, sudah ada platform yang bisa mewadahi karyamu untuk disebarkan ke orang-orang, dan seringnya hanya masalah waktu sebelum karyamu menemukan orang yang menyukainya.

Dalam bahasa Seth Godin, pemasaran adalah tentang memilih siapa yang kau layani dengan karyamu (atau produk).

Contohnya misalnya saya. Website ini sebenarnya merupakan portofolio pekerjaan saya, namun karena biayanya terlalu mahal kalau hanya untuk memajang porto pekerjaan, maka saya juga membuat blog yang berisi konten pengembangan diri dan pemasaran.

Pembaca saya adalah orang yang ingin mengembangkan diri dan konten di sini menyediakan caranya.

Kamu juga harus paham konsistensi ini bisa jadi semacam sinyal untuk pembacamu, kalau kamu akan selalu menerbitkan karyamu tepat waktu, atau setidaknya begitu. Ini yang disebut profesionalitas.

Oke, sekarang kamu mulai paham kan maksud saya. Lalu bagaimana caranya agar kamu bisa membuat konten yang berkualitas?

Jangan Mengandalkan Inspirasi dan Mood (Suasana Hati) Tapi Komitmen

Sebagai penulis dan terkadang edit foto juga saya paham kalau ada waktu tertentu yang memang mood mu bagus, kamu sangat terinspirasi, dan kamu semangat dalam mengerjakan karya itu.

Tapi…..

Hal ini tidak datang setiap hari.

Inspirasi dan mood bagus dalam membuat karya tidak akan datang setiap hari. Memang ini sudah fitrahnya, sifat alaminya.

Dan kamu akan kesusahan jika hanya mengandalkan inspirasi dan mood saja dalam berkarya.

Lalu apa yang bisa kamu lakukan?

Pertama mood dan inspirasi tidak akan datang setiap hari di waktu yang kamu inginkan, jadi jangan mengandalkan mereka tapi jadilah profesional.

Ada perbedaan mencolok antara amatir dan profesional.

Tidak, bukan pada perbedaan keterampilan atau mastah, melainkan kepada komitmen.

Misalnya kamu sudah booking seorang fotografer untuk memotret di Sabtu pagi. Mau fotografer tersebut baru putus semalam dengan pacarnya, mau ada keluarganya yang sakit, atau misal dia terlukan ringan (lecet karena jatuh dari motor, misalnya). Fotografer ini akan tetap datang di waktu yang kalian sudah janjikan.

Ini namanya komitmen.

Sebagai pembuat karya, apa pun itu. Komitmen pada waktu dan kualitas adalah yang membedakanmu dengan amatir.

Kita memang tidak bisa selalu menyuguhkan karya terbaik dari kita setiap saat. Namun sebagai profesional kamu akan memiliki standar kualitas karya yang kau kerjakan seperti apa.

Baca tips untuk lebih jadi produktif di sini.

Perfeksionisme Menghalangimu Menyelsaikan Karya

Harus diakui orang tidak suka dilihat kegagalannya, namun ketika kamu jadi seorang yang perfeksionis akan menghambatmu dalam konsistensi menyuguhkan karya.

Seorang yang perfesionis memang akan mengejar karya tersebut sampai mencapai kualitas yang orang itu inginkan.

Namun tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah ini membuatmu lebih baik dalam berkarya?

Jawabannya pasti tak sama untuk semua orang. Ada yang memang bisa seperti ini, namun kebanyakan kita tidak bisa mengejar kesempurnaan sebuah karya, entah karena kondisi atau memang akhirnya membuatmu malas saja.

Saya paham kalau kamu takut karyamu dihakimi dengan jelek oleh orang lain jika kamu tak menyuguhkan yang terbaik.

Namun, coba pikir apakah dengan menyuguhkan karya terbaik yang kamu pikir hebat itu menaikkan jumlah pengikut di media sosial, menaikkan jumlah pengunjung blog?

Biasanya sih tidak.

Keajaiban era digital ini ketika kita membuat konten adalah sering sekali konten yang kita pikir biasa saja malah disukai oleh orang-orang dan yang kita pikir adalah tulisan terbaik misalnya, dianggap biasa saja oleh pembaca.

Lalu kenapa kita harus peduli dengan konsistensi untuk menyuguhkan karya berkualitas?

Algoritma Platform dan Pemasaran Digital

Di era digital yang penuh keriuhan dan distraksi ini ada saja yang hal yang akan menyita perhatianmu. Entah itu postingan Facebook atau tweet yang viral.

Konten di berbagai platform media sosial dan kampanye pemasaran dan politik, semuanya meminta perhatianmu. Jadi kamu harus belajar mengacuhkan banyak hal di internet.

Nah, ini juga membawa masalah, yaitu kamu akan kesulitan untuk menggapai orang-orang yang akan menyukai dan menikmati karyamu karena semua keriuhan ini.

Baca juga: Hal yang Membuatmu Mendapatkan Uang

Selain pelbagai teknik pemasaran dan iklan yang bisa kamu gunakan, konsistensi menyuguhkan karya yang berkualitas tetap menjadi kunci keberhasilanmu.

Konsistensi ini adalah strategi jangka panjang yang lebih bisa diandalkan dibanding konten (atau karya) yang viral.

Konsistensi ini akan membuatmu lebih mencolok dibandingkan seniman lain. Kamu ada untuk mereka yang memang menyukai karyamu.

Baca juga tentang skill yang membuat mendapatkan uang

Lihat Proses Berkarya Sebagai Latihan

Gagal, gagal, dan gagal dengan lebih baik.

Seth godin

Anggap proses berkaryamu ini sebagai latihan, jadi ketimbang melihat karyamu sebagai hasil akhir tapi lihat ia sebagai bagian dari proses pengembangan diri.

Chrid Do dari The futur, sebuah channel Youtube untuk pengembangan bisnis desain bilang jika kamu mengerjakan 500 konten Instagram maka itu akan membuat dirimu bertransformasi.

Jurnalis foto legendaris dari Perancis, Henri Cartier-Bresson, bilang bahwa 10.000 karya foto pertamamu adalah yang paling buruk.

Mereka berdua menunjukkan kalau semakin banyak jumlah karya yang kau hasilkan sebenarnya akan membuatmu jadi seniman dan pembuat konten yang lebih baik, bahkan bisa membuat dirimu bertransformasi.

Para penulis juga sama, kita tak tahu berapa ratus atau bahkan ribuan tulisan yang dibuat oleh para penulis sebelum mereka menerbitkan buku yang membuat mereka terkenal.

Ini yang disebut Eric Barker, penulis buku Mendaki Tangga yang Salah, dengan Deliberate Work, yaitu selalu mencoba menyuguhkan pekerjaan (atau karya) dengan standar kualitas tinggi.

Lalu bagaimana jika pikiranmu blank sama sekali, tak terpikir membuat apa-apa?

Mari kita lihat saran dari para seniman dan pemikir besar.

Saran Membuat Kreativitas Tak Berbatas

Seth Godin bilang kalau Writer Block adalah mitos. Begitu juga dengan Creative Block. Writer block adalah keadaan penulis tak bisa memikirkan apapun untuk ditulis.

Ernest Hemingway bilang kalau paragraf pertamamu adalah sampah.

Jadi bahkan para pemikir dan penulis terkenal pun memang tak bisa selalu menyuguhkan karya terbaiknya. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Dalam buku The Accidental Creative : How To Be Brilliant at Moment’s  Notice yang ditulis oleh Todd Henry, meangatakan, kalau kreativitas itu memiliki ritme. Artinya kamu ada saatnya kamu akan brilian, lalu di saat lainnya minim ide bahkan tak bisa memikirkan apapun untuk dikaryakan.

Ketika saya mencoba memulai kebiasaan (habit) baru menulis untuk blog pribadi dua jam sehari, saya seringkali menatap layar tanpa bisa memikirkan apa pun untuk ditulis.

Namun ketika saya mulai menulis satu sampai tiga paragraf yang tak jelas, tiba-tiba ada saja ide untuk melanjutkan pargaraf tak jelas tersebut.

Terkadang saya hanya mencoret-coret buku catatan dengan tak jelas. Namun ternyata itu bisa memberikan saya ide segar.

Dalam buku tersebut, ada sebuah tips menarik yang disebut dengan Unnecessary Creating, yaitu menciptakan atau mengerjakan sesuatu yang tak perlu.

Jadi kamu akan membuka sebuah buku catatan lalu mulai menulis saja sambil tak memikirkan apa pun. Tulislah sebanyak satu halaman. Jangan pikirkan apa pun yang kau tulis tersebut.

Setelah saya coba memang ternyata ide-ide untuk menulis malah keluar.

Jika kamu seorang seniman visual, mungkin bisa coba menulis atau menggambar asal, yang penting terus untuk menciptakan sesuatu.

Dan ini akan membuat ide-idemu keluar bagai aliran sungai.

Mari rangkum

Penting melihat apa artinya karyamu bagi orang-orang yang menikmati, menghargai, bahkan mencintai karya atau pekerjaanmu itu. Jadi konsistenlah dalam menerbitkan karyamu yang berkualitas itu.

  • Era digital menuntutmu untuk menerbitkan karya secara konsisten
  • Jangan selalu menunggu inspirasi dan mood untuk mengerjakannya, jadilah lebih profesional
  • Perfeksionisme malah akan menghalangi untuk bekerja secara konsisten
  • Buat karya yang banyak dan lihat itu sebagai latihan pengembangan diri
  • Ciptakan coretan tulisan atau gambar tanpa kau pikirkan, itu akan membantumu membuat ide mengalir

Ya segitu saja ya artikel ini. Kalau boleh, tolong share artikel ini di media sosialmu ya. Ini bisa bikin saya semangat untuk terus menulis konten seperti ini.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *