Mengasah Keahlian Profesional: Spesialis Vs Generalis

Ada sebuah kepercayaan yang berkembang belakangan ini yaitu kemampuan untuk menguasai banyak bidang sekaligus. Padahal untuk menguasai keahlian secara mendalam kamu memerlukan waktu, usaha, dan energi yang tak sedikit. Lalu manakah yang terbaik untukmu mari bedah dalam tema spesialis vs generalis ini.

Jika kalian pernah membaca Buku Outlier karangan Malcolm Gladwell maka untuk menguasai bidang minimal dibutuhkan ribuan jam latihan yang dilakukan selama beberapa tahun untuk mengasah keahlian tersebut.

Namun hal lain yang menarik adalah banyak aplikasi yang bisa memabntumu semakin mudah untuk membuat sesuatu. Misalnya Slidebean untuk membuat presentasi, InShot untuk mengedit video dan layout foto, ada juga Lightroom dan VSCOcam yang bisa membuatmu mudah untuk bisa mengedit foto, dan lain sebagainya. Untuk membuat sebuah video yang menarik tanpa mengasah keahlian itu lebih dahulu.

Namun tentu ada pembahasan yang lebih mendalam dan menawarkan wawasan yang menarik.

10.000 Jam Untuk Menguasai Sebuah Keahlian (Spesialis)

Waktu yang diperlukan untuk menjadi ahli
Kira-kira dengan deliberat practice 10.000 jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk menguasai sebuah bidang

Untuk menguasai keahlian diperlukan waktu yang lama, energi banyak, dan dedikasi selama beberapa tahun untuk menguasai sebuah keahlian.

Misalnya untuk bisa menguasai teknik seni melukis kamu memerlukan sekitar 6.000 jam berlatih melukis. Lalu ada perbedaan antara melukis dengan cat air dan cat minyak, belum lagi menggunakan cat tembok, dan lain sebagainya.

Dalam fotografi saya mempelajari sekitar 8 tahun dan itu juga belum menjadikan saya fotografer yang hebat-hebat amat, tapi mending lah hasil fotografi saya daripada mereka yang baru belajar.

Untuk menguasai keahlian tertentu  diperlukan dedikasi, namun di era hampir segala hal yang kita buat secara instan, maka kamu harus paham apa yang akan terjadi jika keahlianmu terkena distrupsi.]

Perlu praktek bertahun-tahun untuk mengusai sebuah bidang. Jika kamu tertarik dengan tema ini, silakan baca Panduan Menjadi Suhubes di bidang apa pun.

Jika seperti ini nampaknya menjadi spesialis lebih menguntungkan, tapi ada banyak aplikasi yang memudahkan kita sebagai seorang generalist juga.

Di era serba mudah ini sulit membedakan mereka yang sudah menekuni sebuah bidang dan mereka yang mendapatkan bantuan dari template. Ini membawa kita kepada poin penting selanjutnya.

Seniman lebih berharga ketimbang operator!

Artinya alat yang digunakan untuk membuat sebuah karya jauh lebih mudah digunakan, semua orang bisa mengaksesnya, dan harganya jauh lebih murah bahkan gratis. Namun semua ini tidak bisa menggantikan kreativitas seseorang yang mengerjakannya.

Palu, kuas, dan pulpen hanyalah alat, tidak masalah jika kamu menulis di buku catatan mahal yang memiliki cover yang terbut dari kulit, kreativitasmu dan pengetahuanmu yang menentukan tulisanmu itu bagus atau tidaknya.

Dan kamu bisa mendapatkan ini dengan banyak berlatih tapi kamu juga harus paham kalau ada beberapa pekerjaan yang saat ini sudah hilang karena distrupsi yang dibawa oleh inovasi teknologi.

Namun apakah ini tetap arah yang benar sekarang?

Skillset & Keahlian Multidisiplin

Gambaran keahlian pemasaran
Ini adalah tingkat keahlian yang berbeda yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pemasar

Jika kamu bekerja di sebuah bidang secara terus menerus, maka nanti biasanya akan kelihatan tentang keahlian khusus. Misalnya saya mendalami pemasaran, di dalamnya ada content marketing, social media marketing, brand marketing, copywriting, selling, dan seterusnya.

Masing-masing dari keahlian tersebut memerlukan keahlian berbeda dan biasanya seorang pemasar hanya menguasai beberapa saja.

Bahkan dalam pekerjaan yang mengharuskanmu menguasai kebanyakan ini, kamu akan mendapatkan keahlian seperti piramida terbalik. Lihat infografis di bawah:

Hal yang sama berlaku juga di bidang lain seperti desain, pemograman, arsitektur, fotografi, videografi, dan sebagainya. Alasannya kita mengasah kemampuan dalam pekerjaan sesuai dengan permintaan perusahaan dan biasanya tidak semua keahlian ini dibutuhkan.

Artinya dalam sebuah bidang pun kamu harus menguasai banyak keahlian khusus di dalamnya.

Misalnya saya paling sering menulis, lalu pengalaman sebagai proefesional saya lebih banyak mengerjakan konten media sosial, lalu ditambah dengan kegemaran saya pada fotografi yang saya jalani kurang lebih selama delapan tahun. Oh iya, saya juga pernah menjadi editor dua buku novel dan satu kumpulan cerpen yang diterbitkan secara indie.

Jadi keahlian saya ada banyak namun tak semuanya sama dalam.

Tingkat keahlian Yang Berbeda-Beda

Jika kamu sering mengerjakan sesuatu seperti menulis misalnya, tergantung jenis tulisanya, maka kamu akan ahli di sesuatu yang berbeda.

Misalnya keahlian yang dibutuhkan untuk menulis novel itu berbeda dengan menulis cerpen. Begitu juga dengan copywriting, penulisan SEO, artikel, atau feature. Masing-masing jenis tulisan ini membutuhkan keahlian berbeda.

Dalam menulis cerita kamu harus paham tentang struktur cerita, elemen suspense, pengembangan tokoh, alur, dan konflik. Namun dalam copywriting kamu memerlukan keahlian untuk menangkap perhatian, mendapatkan kepercayaan, lalu mendorong pembacamu untuk melakukan call to action.

Cara menulis dan bahkan cara beprikirnya pun berbeda-beda, intinya keahlian yang dibutuhkan berbeda meskipun hal yang dikerjakan sama-sama menulis. Begitu juga dengan desain, video, fotografi, melukis, dan lain-lain.

Jadi dalam sebuah bidang ada sub bidang lagi dan kamu harus menguasai salah satunya. Jadi menjadi spesialis lebih baik?

Aplikasi Yang Mempermudah Pembuatan Konten, apa efeknya?

Banyak sekali aplikasi yang bisa membantu kita, khususnya dalam pembuatan konten untuk website seperti infografis, video, dan edit foto. Lalu apakah keahlian khusus yang orang telah asah selama bertahun-tahun tetap diperlukan?

Pertama ada beberapa hal yang harus kau sadari kalau tidak semua yang kau buat berupa seni, dan tidak berarti semua yang kau buat dengan aplikasi itu adalah sesuatu yang bagus. Ingat, jika semua orang bisa membuatnya maka nilai yang ditawarkan template-template itu tidak seberapa karena semua orang bisa membuatnya.

Namun tidak semua yang kau buat sama berharganya, kenapa? Karena kau bukan seorang seniman di bidang tersebut.

Kenyataannya hanya beberapa hal tertentu yang mungkin berharga untuk orang lain dalam artian kamu dibayar jika membuat sesuatu yang spesifik itu. Ini karena apa yang kau buat tidak dihargai dengan sama.

Pekerja Kreatif Hari Ini: Seni Komunikasi Dari Konten

Hari ini mata uang di platform sosial adalah konten, utamanya banyak pekerjaan baru yang diciptakan hanya untuk membuat konten.

Misalnya saya menjadi seorang social media specialist sangat terbantu dengan adanya Canva untuk membuat desain untuk konten Instagram.

Jadi kita tidak perlu menjadi ahli atau bahkan memahami bagaiman menggunakan Adobe Illustrator dan Corel Draw untuk menjadi seorang desainer. Cukup dengan menggunakan Canva kau sudah bisa membuat konten untuk media sosial.

Namun untuk membuat konten yang berkualitas tetap saja diperlukan pemahaman tentang prinsip dasar dari desain komunikasi visual.

Intinya kita tidak harus menjadi ahli di bidang tersebut, namun ketahui kekuatan dari karyamu atau dalam hal ini kekuatan konten tersebut. Apakah dari segi isi, penyajian, atau mungkin delivery.

Pertimbangkan Segi Branding juga

Lalu dari perspektif Branding, kamu hanya bisa diasosiasikan dengan satu hal. Ini karena hanya karena banyaknya orang di luar sana. Misalnya Garin Nugroho adalah seorang sutradara film, meskipun dia menulis beberapa buku, namun brand image beliau tetap seorang sutradara.

Branding adalah tentang pilihan teratas di pikiran ketika kita membicarakan sesuatu. Dari mulai merek dagang sampai dengan orang, semua dipengaruhi oleh branding.

Tak semua orang memang memiliki nilai brand yang sama, apalagi jika kamu memulai di suatu bidang atau profesi. Branding adalah tentang menjadi satu-satunya di sebuah kategori.

Lalu kalau dari segi branding seorang generalist tidak disebut dengan baik.

Tapi tapi tapi….

Karir atau berbisnis adalah sebuah bagian dari proses panjang, maka jalankan semua saja dulu, nanti ketertarikanmu dan kondisi akan membawamu ke beberapa sub bidang yang memang kau akan totalitas dalam menjalankannya.

Nilai pekerjaanmu sekarang sebagai sebuah proses, bukan hasil akhir. Jadi seorang Generalis pun tak masalah.

Pekerjaan Adalah Sebuah Proses Pengembangan Diri

Hal yang harus kamu pahami tentang menjadi seorang pekerja atau menjalani sebuah bidang adalah semua bagian dari proses untuk mengembangkan dan mengasah sebuah keahlian.

Bisa saja kau melihat sebuah lamaran yang mengharuskanmu mengusai desain, lalu setelah kamu bekerja job deskmu tampaknya selalu bertambah. Seringkali kamu harus mengerjakan sesuatu yang bukan di bidangmu.

Dalam hal ini saya menawarkan sebuah pandangan, cobalah lihat hal yang bukan bidangmu dan harus kau kerjakan itu sebagai sebuah proses untuk mengembangkan diri dan hal ini mungkin terjadi dalam jangka panjang.

Pada awalnya mungkin kamu tertarik kepada banyak hal dan tertarik untuk memperdalamnya, namun seiring waktu kamu mendapatkan pekerjaan dan hanya bisa memilih untuk mempedalam bidang mana saja.

Contohnya mungkin kamu tertarik dengan menggambar ilustrasi, namun belum tentu di pekerjaan yang sedang kau jalani kalau keahlian menggambar itu dipakai, banyak kasus seperti ini.

Apakah menggambar akan membuatmu unik? Ya tentu saja.

Lalu, apakah dari menggambar ilustrasi kau bisa mendapatkan uang? Belum tentu.

Intinya kesempatan kita dalam mengais rezeki seringkali tidak sesuai dengan gambaran ideal kita dan sebenarnya itu tak mengapa. Semua ini hanya bagian dari proses kehidupan.

Jadi saya pikir lebih baik berawal dari seorang generalis, seorang yang paham bagaimana mengerjakan hal yang berbeda-beda. Namun pada akhirnya nanti biasanya orang akan mengkhususkan diri pada proses tertentu.

Proses paling umum ya seorang generalis biasanya akan menjadi seorang spesialis, entah itu karena pilihan atau karena kondisi namun bisa juga sebalinya.

Nasib Pegawai Era Digital

Sekarang ini jika kamu seorang Millenial (generasi yang paling tua umurnya udah 36 loh) atau Gen Z, tampaknya banyak perusahaan mengganggap kita adalah seorang yang multitalenta. Dalam artian bisa mengerjakan desain, video, copywriting, admin medsos, dan seterusnya.

Ya, namun kan semua itu bisa kita lakukan karena ada bantuan dari banyak aplikasi yang mempermudah membuat konten tapi belum pantas juga sebagai seorang ahli.

Misalnya kita bisa membuat sebuah video, namun tetap saja tidak bisa menciptakan iklan video yang bisa dibicarakan orang seperti karyanya Dimas Djay dan timnya. Ini karena adalah tingkat keahlian yang dibutuhkan untuk membuat iklan dibicarakan orang itu berbeda.

Kadang ekspektasi perusahaan berlebihan terhadap pekerja dari generasi millenials dan gen Z, tapi ya itu tantangannya. Seringkali kita dihadapkan pada situasi yang tidak ideal bahkan sepanjang hidup kita. Namun lebih sering kita berada di sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Jadi sedikit jadi generalis menguntungkan jika kamu baru memulai karir, tapi ingat grafik di atas, perdalam satu bidang yang memang jadi ketertarikanmu.

Sekarang mari kita rangkum:

Rangkuman

Pada awalnya kita mungkin sudah memperdalam suatu keahlian namun jika dihadapkan di tempat kerja baik sebagai pegawai atau seorang freelancer kadang bukan hal itu yang dilihat sebagai nilai kita di mata klien atau atasan.

Namun diluar semua perdebatan dan pertimbangan, perhitungkan juga adaptasi dirimu dalam melaksanakan sebuah pekerjaan. Ingat sebagai orang dewasa kamu harus bisa menghidupi diri sendiri dan seringnya kondisi yang sedang dijalani bukan yang kamu inginkan.

Lalu, jika kamu tertarik dengan sebuah bidang, pelajarilah karena hal itu bisa jadi jalan untuk mendapatkan hidup impianmu.

Lalu, jangan lupa semua ini bagian dari proses, jalani dengan senang hati ibarat kamu sedang melakukan penjelajahan dan kamu akan sering menemukan hal-hal yang tidak kamu senangi.

Baca tulisan ini jika kamu ingin memahami diri sebagai orang kreatif.

Baca juga:

Cara Melawan Distraksi Menurut Neurosains

Tips Menahan godaan promo dari online shop

Ini dia cara menabung paling bagus untuk penghasilan pas-pasan

Share

You may also like...

1 Response

  1. Hastira says:

    makaish sharingnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *