Cara Efektif Melawan Distraksi Menurut Neuroscience, Budisme, Dan Stoisisme

Di era digital ini, dimana semua distraksi dirangkum dalam laptop dan hpmu, maka kamu akan menemukan banyak hal yang bisa membuat fokusmu teralihkan dengan mudah.

Aplikasi yang kau install, web yang kau nyalakan notifikasinya, bahkan keranjang belanja di ecommerce favoritmu yang terus memberi tahumu untuk checkout dan membayarnya, menuntut perhatianmu. Ditambah kelakukanmu untuk terus melakukan window shopping membuat distraksi semakin banyak.

Distraksi di zaman digital ini sangat menuntut perhatianmu, sampai-sampai produktivitasmu turun, bahkan bisa turun drastis jika kau tak mengontrolnya.

Untungnya ilmu baru dari neurosciene, budisme, dan Stoisisme memiliki tips bagaimana kau bisa melawan distraksi ini secara efektif.

Otak Yang Reaktif

Mungkin kamu bukan seorang pemalas, mungkin juga kamu memang pemalas, namun yang pasti otak kita memang pemalas.

Penelitian telah menunjukkan kalau seringnya kamu tak menikmati hal-hal di waktu luang secara maksimal, kamu lebih suka melakukan sesuatu yang mudah. Ini karena otakmu tak ingin membuang energinya.

Nah, di saat seperti ini segala macam aplikasi dan web menuntut perhatianmu dan mereka akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Ini karena perhatianmu adalah uang untuk mereka. (Ya sebenarnya ini pekerjaan saya sebagai pemasar digital, mendapatkan perhatianmu).

Sebagai pemasar digital saya tahu kalau ada beberapa hal yang dengan cepat akan menangkap perhatianmu. Seperti notifikasi yang selalu kau terima di hp yang disebut sebagai push notification.

Jadinya ketika notifikasi tersebut muncul maka otomatis perhatianmu akan tertuju ke sana. Masalahnya otakmu senang bereaksi terhadap bombardir distraksi ini. Itulah  kenapa notifikasi dari media sosial dan ecommerce coba menyita banyak perhatianmu.

Lalu kamu juga pasti sering memiliki dorongan untuk segera melakukan apa yang otak pikirkan. Misalnya kamu sedang menulis, tiba-tiba kamu ingat kalau ada chapter One Piece baru yang terbit hari ini. Dorongan (urge) itu pasti ingin langsung kamu penuhi.

Jangankan notifikasi, otakmu saja sudah penuh distraksi dan kamu bereaksi terhadap hal ini.

Ini menuntun kita epada masalah yang lebih besar: Kamu tidak membuat keputusan terbaik ketika bereaksi.

Isu ini sudah ada sejak ribuan tahun, filsuf Stoisisme Epictetus bilang:

“Jika seorang memberikan badanmu pada siapa pun yang lewat kau pasti akan marah. Namun kau malah sering menyerahkan pikiranmu pada orang asing yang datang, jadi mereka menyalahgunakan pikiranmu itu, meninggalkannya dengan terganggu dan dipenuhi masalah. Apa kau tak punya malu?”

Ini kenyatannya, lalu apa yang bisa kita lakukan?

Muda saja, kita perlu bersiap.

JIka kamu bermasalah dengan kebiasaan buruk, silakan baca Panduan Menghilangkan Kebiasaan Buruk di sini.

Mengendalikan Konteks

Konteks yang dimaksud di sini adalah hpmu atau tempat datangnya distraksi. Misalnya hp dan laptop.

Agar saya bisa menulis dengan lebih efektif maka saya akan menyingkirkan hp sejauh mungkin dari jangkauan dan membuatnya pada airplane mode.

Ketika membuka laptop saya akan menutup semua lama media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Itu membuat saya lebih fokus.

Dalam hal ini kita bisa mengontrol bagaimana mengatur tempat datangnya distraksi tersebut.

Hal ini juga didukung oleh Brian Wansik seorang profesor yang telah lama meneliti overeating (makan berlebihan), ada beberapa hal ia dapati:

“Setiap orang, termasuk kita, makan sebanyak apa yang tersedia di sekeliling kita.”

Kita makan setengah jumlah biasanya, jika makanan itu cukup jauh untuk dijangkau menurut Brian.

Jadi jika kamu punya masalah sering nyemil, maka untuk menguranginya kamu harus menjauhkan makananmu, cukup beberapa langkah saja.

Sama halnya dengan menyingkirkan gangguan dari hp. Buat hp itu jauh dari jangkauan, minimal kau harus berjalan dulu beberapa langkah untuk mengambil hpmu.

Usaha lebih ini akan membuatmu malas mengambil hp.

Kalau gangguan yang berasal dari laptop bisa kamu tutup semua tab media sosial di peramban (browser). Lalu kemudian fokuslah bekerja atau belajar.

Namun, semua ini belum cukup, maka kamu memerlukan satu langkah lagi.

Tetaplah Tenang

Ketika kamu tergesa-gesa atau lebih parahnya panik, maka kamu akan sangat mungkin untuk membuat keputusan yang buruk.

Jika kamu akan mengerjakan sesuatu yang sulit pasti kamu akan sering menunda-nunda, melakukan proskrasinasi. Untuk itu penting diam sebentar, untuk memikirkan baik-baik apa yang akan kau kerjakan.

Ilmuan Neuroscience menemukan ketika kamu dalam keadaan stres maka prefrontal cortex – bagian untuk berpikir logis – di otak akan offline, jadi ketika stress sebenarnya kamu lebih bodoh.

Ketika stress juga kamu akan sering membuat keputusan yang jelek.

Nah, namun ini pun belum selesai. Dengan diam sebentar dan berpikir maka kamu bisa memilah untuk mengerjakan hal mana yang paling penting.

Pilah Tindakan Yang Membuatmu Lebih Dekat Kepada Tujuan

Ketika kamu dalam keadaan panik dan tidak memiliki prioritas, biasanya kamu akan mengerjakan sesuatu yang salah, yang tidak penting duluan.

Pastikan kamu mengerjakan hal paling penting dulu.

Epictetus seorang penganut Stoisisme dari Yunani kuno bilang:

Pertama katakan pada dirimu sendiri kau ingin menjadi apa, lalu pikirkan lakukan apa yang harus dilakukan. Untuk setiap perjalanan dalam mencapai sesuatu hal ini yang selalu terjadi. Ketika orang mengejar karir di dunia atletik, mereka memilih cabang olahraga yang mereka mau, lalu mereka mengerjakannya.

Begitu juga dengan filosifis Budha yang berpandangan sama tentang memilih tindakan secara sadar ini. Joseph Goldstein, seorang praktisi meditasi dengan filosofis Budhis, bilang:

Kemana tindakan ini akan mengarahkan saya? Apakah saya ingin ke sana?…Pemikiran ini yang kini muncul, apakah menolong? Apakah pemikiran ini bermanfaat untuk saya atau tidak? Apakah ini memang jalannya, mungkin sebuah kondisi lama yang membuat saya takut atau memang pemikiran ini tidak bermanfaat bagi saya dan orang lain.

Semua pertanyaan ini terhadap sebuah ide yang muncul di pikiranmu merupakan proses untuk membuat keputusan yang lebih tepat. Dan Penelitian Neuroscience juga sepaham dengan Stoisisme dan filosofis Budha ini.

Dengan memikirkan tujuan jangka panjangmu, maka otakmu merasa seperti memiliki kontrol lebih terhadap apa yang dikerjakan.

Diambil dari blog Eric Barker tentang wawancara dia dengan Alex Corb seorang Neuroscientist dari University California Los Angles (UCLA):

“Dengan memikirkan, “Apa tujuan jangka panjang saya? Apa yang coba saya capai?” Memikirkan ini sebenarnya membuat mengerjakan pekerjaan rumah jadi ada imbalannya daripada kamu pergi bermain, karena otakmu, “Ya, saya bekerja untuk lebih dekat pada tujuan saya. Saya mencapai sesuatu yang bermakana bagi diri saya.” Lalu hal itu bisa melepaskan Dopamine di Nucleus Accumbens (salah satu bagian otak) sehingga kamu merasa lebih baik ketika mengerjakan pekerjaan rumah itu.”

Memilih tindakan yang membuatmu lebih dekat dengan tujuanmu secara sadar akan bermanfaat untuk menggapai cita-citamu.

Rangkuman

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Neuroscience telah menunjukkan dengan diam sebentar dan memilih tindakan secara sadar bisa membantumu membuat keputusan yang lebih baik. Selain itu, membantu dirimu untuk merasa lebih baik juga.

Dalam keadaan stress kamu cenderung memilih kegiatan yang bisa memberikan kenikmatan secara cepat. Jadi dibanding menulis untuk artikel blog yang bermakna, maka kamu akan lebih sering memilih untuk melihat konten video lucu di Twitter saja.

Ini yang akan kamu lakukan ketika stres.

Ditambah bermalas-malasan memang sebuah respons otak untuk mengurangi stres.

Untuk itu berhentilah berkegiatan dan pikirkan pekerjaan apa yang akan bisa mendekatkanmu kepada cita-cita.

Nah, sampai jumpa di artikel lainnya ya. Dan kalau bisa tolong share artikel ini ke teman-temanmu, itu akan bikin saya makin semangat dalam menulis tulisan blog yang lain. Terimakasih

Baca juga beberapa artikel pengembangan diri berikut:
Panduan Menjadi Suhu (Expert) Di Bidang Apa pun

Menambah Nilai Jual Diri Sebagai Profesional Dengan Keterampilan Khusus

5 Tahap Meraih Cita-Cita Menurut Sains

Panduan Berpikir Jangka Panjang Menurut Sains

Mencapai Masa Depan Cerah Dengan Berpikir Jangka Panjang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *